BRITISH AND AMERICAN ENGLISH:A COMPARATIVE STUDY IN RELATION TO TEACHING ENGLISH AT STAIN PURWOKERTO

Posted on January 15, 2009. Filed under: Kependidikan, |Vol. 9|Edisi 2|2008| | Tags: , , , , , |

 

Munjin *)

*) Penulis adalah Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.), dosen tetap di Jurusan Tarbiyah (Pendidikan) STAIN Purwokerto.

Abstract:

Materi dan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia pada umumnya tidak terlalu memperhatikan perbedaan antara bahasa Inggris model British dan America, bahkan ia merupakan campuran antara keduanya. Memang kedua bahasa tersebut pada umumnya hampir sama, namun beberapa hal yang agak prinsip, perbedaan yang ada antara lain terletak pada sedikit tata bahasa, ucapan, dan yang paling banyak pada kosa kata. Dengan adanya perbedaan tersebut diharapkan bagi para pengajar di perguruan tinggi (STAIN) dapat memberikan penjelasan secukupnya kepada mahasiswa terhadap perbedaan tersebut sehingga dapat mengurangi kebingungan mereka.

Kata Kunci: English Amerika, British, Tata Bahasa, Ucapan, Kosa Kata.

 

I. PROBLEMATICAL BACKGROUND

Many areas of the world are populated by people speaking different languages. In such areas, groups desire social or commercial communication. One language is often used with common agreement, and is usually called Lingua Franca1, it rises when people residing in one part of the world want to communicate to the people in another areas. So, it is relevant to what Mauris Simatupang said in his book entitled Ilmu dan Budaya, “tampaknya ilmuwan seluruh dunia telah secara diam-diam sadar atau ditak sadar meresmikan bahasa Inggris sebagai bahasa perantara semacam Lingua Franca”.2 

It is known that native speaker of English consist of about 700 million of people including those with their American English. Since America is well-known as prominent country in high technology, trade and diplomacy, and confirms in communication among nations in the world, what has been decided in Washington D.C or Wall Street in New York, for instance, will influence the other places of the world.

 

 

Read more (Baca Selngkapnya) : 7-british-and-american-english-munjin

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

PEMIKIRAN IBN TAIMIYAH TENTANG METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN SEBAGAI UPAYA PEMURNIAN PEMAHAMAN TERHADAP AL-QUR’AN

Posted on January 15, 2009. Filed under: Dakwah, Hukum, Syariah | Tags: , , , |

 

H. Masyhud *)

*) Penulis adalah dosen tetap STAIN Purwokerto Jurusan Hukum Islam (Syari’ah). Dia menyelesaikan studi Magister Studi al-Qur’an di Pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

Abstract:

Ibn Taimiyah is a great and productive thinker and writer. He has written more than 500 books almost in all aspects of Islam. His thought has significantly influenced the world of Islam. The Science of the Holy Qur’an (‘Ulum al-Qur’an) which was important part of his works has altered the paradigm of Qur’anic interpretation among Moslem scholars during his era and the next generation. The purposes of this research are follows: (1) explaining the opinion of Ibn Taimiyah about the Qur’anic interpretation that had been done by Moslem scholars in his period; (2) finding the best principals and methods of Qur’anic interpretation according to Ibn Taimiyah; and (3) searching the original  characteristics of Ibn Taimiyah’s Qur’anic interpretation. This research will be conducted based on the frame of thinking that the difference methods of Qur’anic interpretation which are applied by Moslem scholars will significantly influence the product of their interpretations. In fact, the method of Qur’anic interpretation continuously develops in accordance with the development of time and needs. Ibn Taimiyah is a thinker and Qur’anic interpretator who seriously work to clean the Holy Qur’an from the improper understanding that contradict to the general teaching of the Holy Qur’an it self that had been develop in his era and previously. Qualitative method and book survey technique will be employed in this research. The primary sources of data are works of Ibn Taimiyah in the discipline of the Qu’anic Interpretation, while its secondary sources are the works of other Moslem scholars in the discipline from various generations.

Keywords: Method, purifying, Qur’anic interpretation, source of teaching.

 

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kitab suci yang ayat-ayatnya terdiri dari ayat yang bersifat qath’y /muhkamat dan zhanny  mutasyabihat.1 Secara kuantitas, ayat-ayat zhanny lebih banyak dari ayat-ayat yang qath’i. Al-Qur’an sebagai wahyu seluruh penafsiran terhadap ayat-ayatnya menjadi sumber ajaran yang penting dalam kehidupan beragama.2 Ayat-ayat itu sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia,3 dari kegelapan menuju alam yang penuh hidayah, terang benderang, dan pembeda (furqan) antara yang hak dan yang batil.4

Fenomena ini bukan merupakan ciri khusus agama Islam saja, melainkan merupakan karakter umum dari semua agama yang didasarkan atas wahyu Ilahi.5 Dalam perspektif Fazlur Rahman, al- Qur’an adalah dokumen keagamaan dan etika yang secara praktis bertujuan menciptakan masyarakat memiliki moral yang tinggi dan adil, yang terdiri dari individu-individu saleh dan religius,6 yang dilandasi oleh tauhidu a’la al-Allah yang Maha Esa. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan.7 Al-Qur’an menjadi pedoman bagi manusia untuk memenuhi janjinya kepada Allah, dan memilikiperan yang disandangnya sebagai khalifah di bumi.8 Oleh karena itu, al-Qur’an menjadi landasan kehidupan umat Islam di manapun berada.

Baca selengkapnya: 5-pemikiran-ibnu-taimiyah-masyhud

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

PROBLEMATIKA BID’AH: KAJIAN TERHADAP DALIL DAN ARGUMEN PENDUKUNG SERTA PENOLAK ADANYA BID’AH HASANAH

Posted on January 15, 2009. Filed under: Dakwah, Hukum, Syariah | Tags: , , |

 

Supani *)

*) Penulis adalah Master of Arts (M.A.), dosen tetap STAIN Purwokerto.

 

Abstract:

One of important issue that threatens Muslim unity is bid’ah issue. Several parties that dispute each other are Ahlussunnah, Mu’tazilah, Khawarij, and Murji’ah, between NU and Muhammadiyah, between Salafi, Wahabi, Ahmadiyah and others sects. On several ritual or social activity, they claim that their activity is the only true one and accord with Islamic teaching. Even, in Pakistan, Iraq, and Iran, bid’ah issue have ignited bloody civil war between Muslim. There two position about bid’ah; first, ulama that posit all bid’ah are deviate. Second position, posit that bid’ah not generally astray; there astray and blamable (madzmumah), and also praised bid’ah (mahmudah). From different definition, they also have different method to understand proposition (dalil), and almost certainly they’ll never be united. So, what have to done is giving comprehensive understanding to ummat from extremist Muslim that deliberately astray and alters Muslim true and genuine understanding.

Keywords: bid’ah, Muslim unity, madzmumah, mahmudah.

 

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Kata bid’ah dalam khazanah Islam merupakan lawan kata sunnah. Bid’ah oleh Imam Abu Muhammad ‘Izzudin bin Abdussalam sebagai, “fi’lun ma lam yu’had fi ‘ashri rasulillahi shalla Allah ‘alaihi wa sallam” (mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah SAW).1 Kata sunnah didefinisikan dengan “Al-thariqah al-maslukah fi al-din bi an salakaha rasulullah shalla Allah ‘alaihi wa sallam aw al-salaf al-shalih min ba’dihi” (jalan yang dijalani dalam agama karena biasa dijalani Rasulullah dan oleh orang-orang terdahulu yang shalih, sesudah Rasul SAW wafat).2

Perdebatan yang sering terjadi di kalangan masyarakat mengenai konsep bid’ah dan penilaian terhadap suatu perbuatan itu, temasuk bid’ah atau tidak? Apakah setiap bid’ah itu pasti sesat ataukah ada bid’ah yang khasanah, yang pada umumnya masyarakat masih belum banyak mengetahui persoalan mendasar yang harus menjadi pegangan? Boleh jadi, hal ini dikarenakan mereka belum memahami secara utuh dasar normatif konsep bid’ah itu sendiri dan beberapa pendapat ulama serta argumen masing-masing. Kebanyakan masyarakat hanya mengetahui secara parsial, maksudnya hanya mengetahui/membaca satu pendapat dan argumen yang sesuai, membenarkan amaliah mereka sendiri tanpa memperhatikan, dan memahami pendapat lain yang sesungguhnya juga berdasarkan dalil-dalil dari sumber yang sama.

Salah satu isu besar yang mengancam persatuan dan kesatuan umat Islam adalah isu bid’ah. Akhir-akhir ini, kata bid’ah sering terdengar, dan digunakan untuk memberi label saudara-saudara yang seiman (sesama muslim) sehingga sebagian umat Islam mengklaim saudara yang seiman sebagai kelompok sesat (ahli bid’ah). Oleh karena aliran sesat, maka harus segera dicarikan jalan untuk memberantasnya atau bahkanmenyingkirkannya. Sementara itu, sebagian umat Islam lainnya toleran terhadap kelompok yang dianggap sesat itu. Bagi kelompok yang dituduh sesat tentu merasa sakit hati, bahkan marah-marah karena dirinya dianggap sesat oleh saudaranya yang seiman.

Kasus yang mudah kita cermati, misalnya maraknya umat Islam yang saling bermusuhan dan saling mencurigai sesama mereka dengan menggunakan isu bid’ah. Yakni antara kelompok Ahlussunnah, Mu’tazilah, Khawarij, dan Murji’ah, antara NU dan Muhammadiyah, antara aliran Salafi, Wahabi, Ahmadiyah dengan aliran-aliran lainnya. Dalam beberapa aktivitas ibadah maupun sosial, mereka saling mengklaim aktivitas masing-masing sebagai yang paling benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Di Pakistan, Irak, dan Iran, misalnya, isu bid’ah telah menyulut perang saudara berdarah antarumat Islam.

Mengkaji isu bid’ah sudah barang tentu akan bersinggungan dengan dasar yuridis, etis-filosofis, dan sosiologis-antropologis dari konsep bid’ah yang harus dicari sandaran hukumnya (normatif) dalam al-Qur’an, terutama dari al-Sunnah, dan beberapa pendapat ulama terkait dengan bid’ah. Tulisan ini mencoba memaparkan, dan menelaah landasan hukum normatif konsep bid’ah dan beberapa pandangan ulama beserta argumen masing-masing melalui pendekatan kebahasaan.

Permasalahan interpretasi konsep bid’ah, adakah bid’ah hasanah dan batas-batas perbedaan bid’ah dengan sunnah secara tegas dalam kitab-kitab Hadis, tafsir, maupun kitab fiqih. Menurut pengamatan peneliti masih perlu dibahas secara utuh dan menyeluruh. Sebab dari pengamatan peneliti, ulama cenderung menulis konsep bid’ah hanya mencantumkan satu pendapat saja tanpa disertakan pendapat lain sebagai perbandingan, bahkan sebagian ulama mengkaji konsep bid’ah hanya untuk membela pendapat yang diyakininya. Oleh karena itu, persoalan pokok yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana konsep Islam mengenai bid’ah dan sunnah? Masalah pokok tersebut dapat dirinci menjadi dua sub bahasan sebagai berikut.

1. Bagaimana pemaknaan bid’ah menurut para ulama?

2. Bagaimana kriteria atau batas suatu aktivitas disebut bid’ah?

 

 

Baca Selengkapnya : 4-problematika-bidah-supani

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

PETA DAKWAH DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS

Posted on January 15, 2009. Filed under: Dakwah, Sosial | Tags: , , , |

 

Nawawi *)

*) Penulis adalah alumnus Antropologi Pascasarjana UGM (M.Hum.), dosen tetap dan menjadi Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di STAIN Purwokerto.

 

Abstract:

This research directed to collect data to arrange dakwah’s (religious proselytizing) map at Sumbang Sub district, consist of systematic and detailed outlook of subject, object, and surrounding on geographical dakwah. From the research we can conclude tat mosque amount not quite enough, and it’s distribution uneven. But the good news is this number increasing every year. Dai (Islamic missioner) also need to add, and its institution still uneven distributed. About education back ground of dakwah target, mostly with elementary education, therefore dakwah must be adjusted with their condition. With this dakwah’s map data, policymaker on religious domain can make development plan with more appropriate target, and dakwah’s agent use it as referent to design dakwah strategy according to social condition. Keywords: Dakwah, Sumbang Sub district, development plan, social condition.

 

I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Dakwah Islam yang dikonotasikan sebagai upaya transformasi dan internalisasi nilai-nilai ajaran Islam kepada umat manusia, dalam pelaksanaannya memerlukan adanya sistem perencanaan (planning) yang memadai agar dapat mencapai hasil dan tujuan yang diharapkan. Salah satu perencanaan yang dimaksud adalah memahami secara objektif dan komprehensif sarana dakwah (mad’u) sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan strategi dakwah yang tepat bagi pelaku dakwah (dai) dalam melaksanakan tugasnya pada suatu komunitas tertentu.

Untuk itu, diperlukan adanya peta dakwah yang representatif, yang mampu menyajikan beberapa data deskriptif untuk menjelaskan potensi masyarakat dari berbagai sudut pandang seperti demografis, institusi, dan sumber daya manusia. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penduduk di Kecamatan Sumbang belum sepenuhnya mengerti dan memahami arti pentingnya pengamalan ajaran Islam yang sebenar-benarnya. Salah satu yang sangat menonjol adalah rendahnya minat penduduk untuk memakmurkan masjid.

Dengan kerangka berpikir di atas, peneliti merasa tergugah untuk mengadakan penelitian tentang peta dakwah di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Dengan alasan, daerah ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas yang perlu pembinaan dan pengembangan dakwahnya. Selain itu, Kecamatan Sumbang juga merupakan salah satu kecamatan dengan penduduk yang tingkat pemahaman dan pengamalannya perlu ditingkatkan.

Baca Selengkapnya : 3-peta-dakwah-nawawi

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...