Syariah

PLURALISME AGAMA: STUDI TENTANG KEARIFAN LOKAL DI DESA KARANGBENDA KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP

Posted on January 15, 2009. Filed under: Muamalah, Sosial, Syariah | Tags: , , , , |

 

Attabik* & Sumiarti**

*) Attabik adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di Jurusan Tarbiyah (Pendidikan) STAIN Purwokerto.

**) Sumiarti adalah Magister Agama (M.Ag.), dosen tetap di Jurusan Tarbiyah (Pendidikan) STAIN Purwokerto.

 

Abstract:

The purpose of this research is to reveal fact and comprehensive and detail data about religious pluralism form and values that being its basis and practiced as local genius at Karangbenda Village Adipala Sub district. That local genius values include; knowledge, faith, understanding and perception, and custom (tradition) or ethic enacted by society. Result of this research will give valuable information for people and decision maker about religious pluralism and local genius values on religious pluralism context. Beside, its can became inspiration and input for social problem soling related with conflict and interaction on religious plurality. The result is there are two pluralism forms, namely internal pluralism and external pluralism. Whereas local genius values is the concept of Gusti Kawulo-Kawulo Gusti, Syahadat lan Adat, and Iman lan Oman.

Keywords: religious pluralism, local genius value, Karangbenda Village.

 

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peta dunia sekarang ditandai oleh konflik dengan warna keagamaan. Meskipun agama bukan merupakan satu-satunya faktor, namun jelas sekali bahwa pertimbangan keagamaan dalam konflik-konflik itu dalam eskalasinya banyak memainkan peran.1 John Naisbitt dan Patricia Aburdene mengemukakan semboyan: Spirituality Yes, Organized Religion No. Semboyan ini mengandung makna bahwa mereka menginsyafi perlunya spiritualisme dalam hidup manusia, tetapi mereka sangat kritis terhadap agama mapan, bahkan menolaknya. Eisntein pernah menyatakan hal serupa, dan jauh sebelumnya Thomas Jefferson juga menganut pandangan serupa. Jefferson mengaku percaya kepada Tuhan (Deisme), kepada Ke-Maha Esa-an Tuhan (Unitarianisme), dan kepada Kebenaran Universal (Universalisme) tanpa merasa perlu mengikatkan diri kepada salah satu agama formal yang ada. Apa yang diamati oleh Naisbitt dan Aburdene tidak lain dari apa yang diamati oleh Alfin Tofler sebagai gejala kultus (cult), yaitu gerakan spiritual (dan keagamaan) dengan sistem pengorganisasian yang ketat, penuh disiplin, absolutistik, dan dengan sendirinya kurang toleran terhadap kelompok lain. Kultus biasanya berpusat pada ketokohan pribadi yang menarik, berdaya pikat retorik yang memukau, dan dengan sederhana, namun penuh keteguhan, menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan. Gerakan ini menurut Toffler bisa diterangkan jika kita melihat gejala-gejala negatif masyarakat industri, yaitu kesepian, hilangnya struktur kemasyarakatan yang kukuh, dan ambruknya makna yang berlaku. Industri telah mengakibatkan alienasi pada diri pribadi para anggotanya.

Baca Selengkapnya : 6-pluralisme-agama-attabik-sumiarti

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

PEMIKIRAN IBN TAIMIYAH TENTANG METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN SEBAGAI UPAYA PEMURNIAN PEMAHAMAN TERHADAP AL-QUR’AN

Posted on January 15, 2009. Filed under: Dakwah, Hukum, Syariah | Tags: , , , |

 

H. Masyhud *)

*) Penulis adalah dosen tetap STAIN Purwokerto Jurusan Hukum Islam (Syari’ah). Dia menyelesaikan studi Magister Studi al-Qur’an di Pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

Abstract:

Ibn Taimiyah is a great and productive thinker and writer. He has written more than 500 books almost in all aspects of Islam. His thought has significantly influenced the world of Islam. The Science of the Holy Qur’an (‘Ulum al-Qur’an) which was important part of his works has altered the paradigm of Qur’anic interpretation among Moslem scholars during his era and the next generation. The purposes of this research are follows: (1) explaining the opinion of Ibn Taimiyah about the Qur’anic interpretation that had been done by Moslem scholars in his period; (2) finding the best principals and methods of Qur’anic interpretation according to Ibn Taimiyah; and (3) searching the original  characteristics of Ibn Taimiyah’s Qur’anic interpretation. This research will be conducted based on the frame of thinking that the difference methods of Qur’anic interpretation which are applied by Moslem scholars will significantly influence the product of their interpretations. In fact, the method of Qur’anic interpretation continuously develops in accordance with the development of time and needs. Ibn Taimiyah is a thinker and Qur’anic interpretator who seriously work to clean the Holy Qur’an from the improper understanding that contradict to the general teaching of the Holy Qur’an it self that had been develop in his era and previously. Qualitative method and book survey technique will be employed in this research. The primary sources of data are works of Ibn Taimiyah in the discipline of the Qu’anic Interpretation, while its secondary sources are the works of other Moslem scholars in the discipline from various generations.

Keywords: Method, purifying, Qur’anic interpretation, source of teaching.

 

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kitab suci yang ayat-ayatnya terdiri dari ayat yang bersifat qath’y /muhkamat dan zhanny  mutasyabihat.1 Secara kuantitas, ayat-ayat zhanny lebih banyak dari ayat-ayat yang qath’i. Al-Qur’an sebagai wahyu seluruh penafsiran terhadap ayat-ayatnya menjadi sumber ajaran yang penting dalam kehidupan beragama.2 Ayat-ayat itu sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia,3 dari kegelapan menuju alam yang penuh hidayah, terang benderang, dan pembeda (furqan) antara yang hak dan yang batil.4

Fenomena ini bukan merupakan ciri khusus agama Islam saja, melainkan merupakan karakter umum dari semua agama yang didasarkan atas wahyu Ilahi.5 Dalam perspektif Fazlur Rahman, al- Qur’an adalah dokumen keagamaan dan etika yang secara praktis bertujuan menciptakan masyarakat memiliki moral yang tinggi dan adil, yang terdiri dari individu-individu saleh dan religius,6 yang dilandasi oleh tauhidu a’la al-Allah yang Maha Esa. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan.7 Al-Qur’an menjadi pedoman bagi manusia untuk memenuhi janjinya kepada Allah, dan memilikiperan yang disandangnya sebagai khalifah di bumi.8 Oleh karena itu, al-Qur’an menjadi landasan kehidupan umat Islam di manapun berada.

Baca selengkapnya: 5-pemikiran-ibnu-taimiyah-masyhud

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

PROBLEMATIKA BID’AH: KAJIAN TERHADAP DALIL DAN ARGUMEN PENDUKUNG SERTA PENOLAK ADANYA BID’AH HASANAH

Posted on January 15, 2009. Filed under: Dakwah, Hukum, Syariah | Tags: , , |

 

Supani *)

*) Penulis adalah Master of Arts (M.A.), dosen tetap STAIN Purwokerto.

 

Abstract:

One of important issue that threatens Muslim unity is bid’ah issue. Several parties that dispute each other are Ahlussunnah, Mu’tazilah, Khawarij, and Murji’ah, between NU and Muhammadiyah, between Salafi, Wahabi, Ahmadiyah and others sects. On several ritual or social activity, they claim that their activity is the only true one and accord with Islamic teaching. Even, in Pakistan, Iraq, and Iran, bid’ah issue have ignited bloody civil war between Muslim. There two position about bid’ah; first, ulama that posit all bid’ah are deviate. Second position, posit that bid’ah not generally astray; there astray and blamable (madzmumah), and also praised bid’ah (mahmudah). From different definition, they also have different method to understand proposition (dalil), and almost certainly they’ll never be united. So, what have to done is giving comprehensive understanding to ummat from extremist Muslim that deliberately astray and alters Muslim true and genuine understanding.

Keywords: bid’ah, Muslim unity, madzmumah, mahmudah.

 

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Kata bid’ah dalam khazanah Islam merupakan lawan kata sunnah. Bid’ah oleh Imam Abu Muhammad ‘Izzudin bin Abdussalam sebagai, “fi’lun ma lam yu’had fi ‘ashri rasulillahi shalla Allah ‘alaihi wa sallam” (mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah SAW).1 Kata sunnah didefinisikan dengan “Al-thariqah al-maslukah fi al-din bi an salakaha rasulullah shalla Allah ‘alaihi wa sallam aw al-salaf al-shalih min ba’dihi” (jalan yang dijalani dalam agama karena biasa dijalani Rasulullah dan oleh orang-orang terdahulu yang shalih, sesudah Rasul SAW wafat).2

Perdebatan yang sering terjadi di kalangan masyarakat mengenai konsep bid’ah dan penilaian terhadap suatu perbuatan itu, temasuk bid’ah atau tidak? Apakah setiap bid’ah itu pasti sesat ataukah ada bid’ah yang khasanah, yang pada umumnya masyarakat masih belum banyak mengetahui persoalan mendasar yang harus menjadi pegangan? Boleh jadi, hal ini dikarenakan mereka belum memahami secara utuh dasar normatif konsep bid’ah itu sendiri dan beberapa pendapat ulama serta argumen masing-masing. Kebanyakan masyarakat hanya mengetahui secara parsial, maksudnya hanya mengetahui/membaca satu pendapat dan argumen yang sesuai, membenarkan amaliah mereka sendiri tanpa memperhatikan, dan memahami pendapat lain yang sesungguhnya juga berdasarkan dalil-dalil dari sumber yang sama.

Salah satu isu besar yang mengancam persatuan dan kesatuan umat Islam adalah isu bid’ah. Akhir-akhir ini, kata bid’ah sering terdengar, dan digunakan untuk memberi label saudara-saudara yang seiman (sesama muslim) sehingga sebagian umat Islam mengklaim saudara yang seiman sebagai kelompok sesat (ahli bid’ah). Oleh karena aliran sesat, maka harus segera dicarikan jalan untuk memberantasnya atau bahkanmenyingkirkannya. Sementara itu, sebagian umat Islam lainnya toleran terhadap kelompok yang dianggap sesat itu. Bagi kelompok yang dituduh sesat tentu merasa sakit hati, bahkan marah-marah karena dirinya dianggap sesat oleh saudaranya yang seiman.

Kasus yang mudah kita cermati, misalnya maraknya umat Islam yang saling bermusuhan dan saling mencurigai sesama mereka dengan menggunakan isu bid’ah. Yakni antara kelompok Ahlussunnah, Mu’tazilah, Khawarij, dan Murji’ah, antara NU dan Muhammadiyah, antara aliran Salafi, Wahabi, Ahmadiyah dengan aliran-aliran lainnya. Dalam beberapa aktivitas ibadah maupun sosial, mereka saling mengklaim aktivitas masing-masing sebagai yang paling benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Di Pakistan, Irak, dan Iran, misalnya, isu bid’ah telah menyulut perang saudara berdarah antarumat Islam.

Mengkaji isu bid’ah sudah barang tentu akan bersinggungan dengan dasar yuridis, etis-filosofis, dan sosiologis-antropologis dari konsep bid’ah yang harus dicari sandaran hukumnya (normatif) dalam al-Qur’an, terutama dari al-Sunnah, dan beberapa pendapat ulama terkait dengan bid’ah. Tulisan ini mencoba memaparkan, dan menelaah landasan hukum normatif konsep bid’ah dan beberapa pandangan ulama beserta argumen masing-masing melalui pendekatan kebahasaan.

Permasalahan interpretasi konsep bid’ah, adakah bid’ah hasanah dan batas-batas perbedaan bid’ah dengan sunnah secara tegas dalam kitab-kitab Hadis, tafsir, maupun kitab fiqih. Menurut pengamatan peneliti masih perlu dibahas secara utuh dan menyeluruh. Sebab dari pengamatan peneliti, ulama cenderung menulis konsep bid’ah hanya mencantumkan satu pendapat saja tanpa disertakan pendapat lain sebagai perbandingan, bahkan sebagian ulama mengkaji konsep bid’ah hanya untuk membela pendapat yang diyakininya. Oleh karena itu, persoalan pokok yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana konsep Islam mengenai bid’ah dan sunnah? Masalah pokok tersebut dapat dirinci menjadi dua sub bahasan sebagai berikut.

1. Bagaimana pemaknaan bid’ah menurut para ulama?

2. Bagaimana kriteria atau batas suatu aktivitas disebut bid’ah?

 

 

Baca Selengkapnya : 4-problematika-bidah-supani

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

INTERKONEKSI STAIN, BSM, DAN MES DALAM MENGEMBANGKAN EKONOMI ISLAM: STUDI KASUS DI PURWOKERTO

Posted on January 15, 2009. Filed under: Ekonomi, Hukum, Muamalah, Sosial, Syariah | Tags: , , |

 

Ahmad Dahlan *)

*) Penulis adalah Sarjana Agama dan Magister Studi Islam (M.S.I.), dosen Ekonomi Islam di STAIN Purwokerto.

 

Abstract:

STAIN, Bank Syariah Mandiri (BSM), and Masyarakat Ekonomi Syariah (MES, Syariah Economic Society) have important role in the development of Islam economy in Purwokerto. This research result evidenced that these three institutions have an Islamic economy development program according with vision and mission of their institution. STAIN as Islamic higher education is on curriculum design and lecture quality domain, BSM as banking financial institution on enhancing employee/manager quality, and MES Banyumas Raya as community organization at socializes about Islamic economy. Interconnection between STAIN, BSM, and MES in developing Islamic economy is still informal/incidental nature, although there several direction to formal cooperation, namely between STAIN and BSM.

Keywords: Interconnection, STAIN, BSM, MES.

 

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan ekonomi Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dalam bentuk kajian, ekonomi Islam telah dikembangkan di berbagai universitas, baik di negera-negera Muslim maupun di negara-negara Barat, seperti USA, Australia, dan Inggris. Dalam praktiknya, ekonomi telah berkembang dalam bentuk lembaga perbankan dan lembaga-lembaga keuangan Islam nonbank. Lembaga perbankan dan keuangan Islam telah merambah ke 75 negara, termasuk di negara-negara Barat.1

Di Indonesia, ekonomi Islam mulai mendapatkan momentum yang berarti sejak Bank Muamalat Indonesia (BMI) berdiri, pada 22 April 1992, berdasarkan surat izin beroperasi dari Keputusan Menteri Keuangan RI. No. 430/KMK.013/1992.2 Walaupun pendirian BMI tersebut dapat dikatakan lebih lambat dari Bank Islam Malaysia Berhard (BIMB), pada tahun 1983 dan Al-Amanah Islamic Investment Bank Filipina, pada 26 Januari 1990.

Baca selengkapnya : Klik disini atau disini: 2-interkoneksi-stain-ahmad-dahlan

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...